Kamis, 04 Juni 2020

OPTIMIS INDONESIA MAJU



Oleh : Farij Nurmahdi


OPTIMIS INDONESIA MAJU | Virus Corona tidak dapat dipungkiri memukul telak tiap negara. China yang sedang menunjukkan taringnya dalam berbagai aspek dipaksa untuk menghentikan langkah bahkan Amerika Serikat yang dipercaya sebagai negara digdaya dan memiliki berbagai teknologi modernpun dipukul mundur olehnya.
Indonesia yang tengah lari mengejar ketertinggalan perlu berhenti dan menghela napas untuk mengurusi virus yang mulai membandel dan menyebar dengan pesat.
Ditengah perang dengan musuh ‘ghaib’ masing-masing negara di tahun sekarang lebih disibukkan untuk menahan penyebaran virus dan mencari cara agar ekonomi didalam negara tetap stabil. Berbagai solusi dari mulai physical distancing (jaga jarak) hingga lockdown pun diterapkan.
Awal tahun 2020 sebagai tahun tikus logam benar-benar begitu pahit yang dirasakan oleh seluruh negara termasuk negara Indonesia padahal negara-negara berkembang mulai bergeser dan diprediksikan dapat bersaing dengan negara-negara maju.
Indonesia dilihat dari pergerakan nilai tukar uang pada akhir tahun 2019 rupiah mencapai level terkuat dalam satu setengah tahun terakhir di Rp. 13.865/US dollar atau menguat 0,4% sebelum pukul 12:00 WIB. Bahkan di masa wabah virus Corona berkembang kurs tengah Bank Indonesia Rupiah pertanggal 17 April 2020  berada di Rp. 15.503 atau 1,8% menguat signifikan dari hari sebelumnya.
Lalu bagaimana nasib ekonomi negara-negara di dunia termasuk Indonesia setelah pandemic Corona berakhir?
Perekonomian diluar prediksi ini mirip dengan situasi di tahun 1929 sampai 1939 menurut Scott Morrison, Perdana Menteri Australia. Sebab COVID-19 telah menghasilkan krisis finansial 2020 paling parah. Tercatat rata-rata saham dunia ‘ambruk’ hingga 25%.
Setiap negara dengan berbagai cara harus kembali memperbaiki dan menstabilkan ekonomi yang jatuh setelah dihantam penyakit ‘mematikan’ yang belum ditemukan obatnya.
Upaya di dalam negeri sendiri, selain memberlakukan PSBB sebagai ganti dari lockdown setelah melihat kejadian chaos di beberapa negara juga meninjau dengan jauh dampak dari lockdown, pemerintah Indonesia memberikan dana stimulus untuk menstabilkan roda ekonomi dan beruntungnya Pandemi Corona terjadi saat panen raya di pertengahan tahun 2020 sehingga cadangan pangan tersedia meski pemerintah telah mewanti-wanti di bulan Maret dengan meninjau persediaan di Gudang Bulog.
Keuntungan panen raya ditengah wabah yang terjadi melanda negeri ini dan seluruh negara di dunia bukan saja menekan kekhawatiran kurangnya pasokan tetapi juga persiapan menjelang wabah Corona berakhir ketika negara lain tengah mengalami krisis. Sebab, menurut FAO (Food and Agriculture Organization) Badang pertanian dunia menyatakan bahwa akan terjadi krisis pangan disebabkan oleh kemarau panjang diakhir tahun nanti.
Itu belum dengan daftar pesatnya perkembangan negara ini. Pembangunan infrastruktur untuk mempermudah mobilitas perekonomian dan jasa, banyak dibangunnya bendungan untuk menyimpan cadangan air di musim kemarau dan menjaga pemukiman dari banjir, gencarnya pembangunan seperti bandara, pelabuhan dan yang lainnya, munculnya generasi-generasi revolunioner, visioner, kreatif dan inovatif, merampingkan regulasi yang berbelit untuk memudahkan investasi sampai gerakan membangun startup dengan memanfaatkan teknologi.
Jika saja di situasi saat ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dengan sadarnya masyarakat Indonesia bersatu padu dan gotong royong, menjaga kebersihan, percaya diri, lebih peka terhadap alam, menatap masa depan dan menyiapkan diri menuju kemajuan bangsa Indonesia karena seluruh negara harus kembali mulai memulihkan perekonomian dan pemerintah melakukan upaya-upaya yang jauh lebih baik untuk saat ini dan membuat strategi yang tepat untuk kedepan maka tidak mustahil setelah berakhirnya wabah virus Corona, Indonesia akan menjadi negara maju bahkan negara adidaya baru beberapa tahun kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar