Oleh : Farij Nurmahdi
OPTIMIS INDONESIA MAJU | Virus Corona tidak dapat dipungkiri
memukul telak tiap negara. China yang sedang menunjukkan taringnya dalam
berbagai aspek dipaksa untuk menghentikan langkah bahkan Amerika Serikat yang
dipercaya sebagai negara digdaya dan memiliki berbagai teknologi modernpun
dipukul mundur olehnya.
Indonesia yang tengah lari
mengejar ketertinggalan perlu berhenti dan menghela napas untuk mengurusi virus
yang mulai membandel dan menyebar dengan pesat.
Ditengah perang dengan musuh
‘ghaib’ masing-masing negara di tahun sekarang lebih disibukkan untuk menahan
penyebaran virus dan mencari cara agar ekonomi didalam negara tetap stabil.
Berbagai solusi dari mulai physical
distancing (jaga jarak) hingga lockdown
pun diterapkan.
Awal tahun 2020 sebagai tahun
tikus logam benar-benar begitu pahit yang dirasakan oleh seluruh negara
termasuk negara Indonesia padahal negara-negara berkembang mulai bergeser dan
diprediksikan dapat bersaing dengan negara-negara maju.
Indonesia dilihat dari pergerakan
nilai tukar uang pada akhir tahun 2019 rupiah mencapai level terkuat dalam satu
setengah tahun terakhir di Rp. 13.865/US dollar atau menguat 0,4% sebelum pukul
12:00 WIB. Bahkan di masa wabah virus Corona berkembang kurs tengah Bank
Indonesia Rupiah pertanggal 17 April 2020 berada di Rp. 15.503 atau 1,8% menguat
signifikan dari hari sebelumnya.
Lalu bagaimana nasib ekonomi
negara-negara di dunia termasuk Indonesia setelah pandemic Corona berakhir?
Perekonomian diluar prediksi ini mirip
dengan situasi di tahun 1929 sampai 1939 menurut Scott Morrison, Perdana
Menteri Australia. Sebab COVID-19 telah menghasilkan krisis finansial 2020
paling parah. Tercatat rata-rata saham dunia ‘ambruk’ hingga 25%.
Setiap negara dengan berbagai
cara harus kembali memperbaiki dan menstabilkan ekonomi yang jatuh setelah dihantam
penyakit ‘mematikan’ yang belum ditemukan obatnya.
Upaya di dalam negeri sendiri, selain
memberlakukan PSBB sebagai ganti dari lockdown
setelah melihat kejadian chaos di
beberapa negara juga meninjau dengan jauh dampak dari lockdown, pemerintah Indonesia memberikan dana stimulus untuk
menstabilkan roda ekonomi dan beruntungnya Pandemi Corona terjadi saat panen
raya di pertengahan tahun 2020 sehingga cadangan pangan tersedia meski pemerintah
telah mewanti-wanti di bulan Maret dengan meninjau persediaan di Gudang Bulog.
Keuntungan panen raya ditengah
wabah yang terjadi melanda negeri ini dan seluruh negara di dunia bukan saja
menekan kekhawatiran kurangnya pasokan tetapi juga persiapan menjelang wabah
Corona berakhir ketika negara lain tengah mengalami krisis. Sebab, menurut FAO
(Food and Agriculture Organization) Badang pertanian dunia menyatakan bahwa
akan terjadi krisis pangan disebabkan oleh kemarau panjang diakhir tahun nanti.
Itu belum dengan daftar pesatnya
perkembangan negara ini. Pembangunan infrastruktur untuk mempermudah mobilitas
perekonomian dan jasa, banyak dibangunnya bendungan untuk menyimpan cadangan
air di musim kemarau dan menjaga pemukiman dari banjir, gencarnya pembangunan
seperti bandara, pelabuhan dan yang lainnya, munculnya generasi-generasi
revolunioner, visioner, kreatif dan inovatif, merampingkan regulasi yang
berbelit untuk memudahkan investasi sampai gerakan membangun startup dengan
memanfaatkan teknologi.
Jika saja di situasi saat ini dimanfaatkan
dengan sebaik mungkin dengan sadarnya masyarakat Indonesia bersatu padu dan
gotong royong, menjaga kebersihan, percaya diri, lebih peka terhadap alam,
menatap masa depan dan menyiapkan diri menuju kemajuan bangsa Indonesia karena
seluruh negara harus kembali mulai memulihkan perekonomian dan pemerintah
melakukan upaya-upaya yang jauh lebih baik untuk saat ini dan membuat strategi
yang tepat untuk kedepan maka tidak mustahil setelah berakhirnya wabah virus
Corona, Indonesia akan menjadi negara maju bahkan negara adidaya baru beberapa
tahun kedepan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar