Selasa, 02 Juni 2020

MANUSIA HIDUP UNTUK MEMPRODUKSI SAMPAH


Oleh : Miftahul Hadi

MANUSIA HIDUP UNTUK MEMPRODUKSI SAMPAH | Sampah sudah menjadi problematika kehidupan manusia di dunia, bukan saja negara miskin tetapi negara maju yang notabenenya memiliki teknologi yang lebih baik dan orang-orang jenius. Sebut saja Amerika Serikat.
Amerika Serikat (AS) merupakan negara yang paling diunggulkan menjadi produsen sampah terbanyak dunia dengan menghasilkan lebih dari dua miliar sampah pertahun. Jumlah ini, tiga kali lipat dari rata-rata sampah global pertahun, termasuk plastik dan makanan.
Sedangkan Indonesia setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik. Bahkan pada tahun 2019 menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan total sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton sampah, dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau sekitar 14 persen dari total sampah yang ada. Ada sekitar 0,48-1,29 juta ton sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan.
Belum lagi pencemaran laut yang di pimpin oleh China dengan tingkat pencemaran sampah plastik ke laut sekitar 1,23-3,53 juta ton/tahun. Bahkan ilmuwan memprediksi pada tahun 2050 sampah empat kali lipat lebih banyak sekitar 20 miliar ton sampah dari tahun 1950-2005 yang hanya 6,5 miliar ton sampah.
Banyaknya sampah yang menggunung di negara berkembang seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia disebabkan oleh jumlah penduduk yang banyak berbanding lurus dengan kesadaran budaya hidup tidak bersih warganya seperti buang sampah semabaranga, regulasi kebijakan pemerintah yang buruk,  juga tingkat konsumtif warganya yang tinggi tidak dibarengi oleh dampak dari apa yang dikonsumsi meninggalkan ‘kemasan’ makanan maupun makanan itu sendiri yang akan menjadi sampah.
Hal ini diperburuk dengan kondisi negara besar Amerika dan Tiongkok yang saling berperang, termasuk soal pengelolaan sampah. Dimana sejak tahun 1995 Tiongkok menjadi salah satu negara pengimpor daur ulang sampah di duinia, bahkan terbesar. Pada tahun 2016 saja ada sekitar 45 juta ton sampah impor, atau sekitar 50 persen sampah daur ulang dunia pergi ke industri Tiongkok (Dw News, 2019). Namun pada tahun 2018 Tiongkok mengeluarkan kebijakan baru tentang pelarangan impor daur ulang sampah ke negaranya atau kebijakan National sword dan Blue sky. Imbasnya, bagi negara penghasil sampah terbesar dunia seperti Jepang, Australia, dan Amerika Serikat harus memutar otak mencari negara baru yang menjadi tujuan ekspor sampah. Faktanya, negara miskin lah yang menjadi korban dari arus sampah ekspor negara tersebut.
Negara di Asia tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand termasuk Indonesia menjadi sasaran impor limbah plastik skala global. Dalam keterangan greenpeace.org  statistik menunjukkan antara tahun 2016-2018 wilayah ASEAN impor sampah plastik tumbuh mengejutkan 171 persen, dari 836.529 ton menjadi 2.265.962 ton. Hal itu setara dengan 423.544 kontainer berukuran 20 kaki. Bayangkan!
Alih-laih pelabelan ‘sampah tersebut dapat didaur ulang’ ternyata dalam realitasnya ratusan ribu ton sampah tersebut adalah sampah yang terkontaminasi. Bisa dibayangkan sampah tersebut mencemari lingkungan dan mencemari kehidupan manusia didalamnya. Pada akhirnya beberapa negara mengeluarkan kebijakan mengembalikan sampah tersebut ke negara asal, juga menyetop impor sampah dari luar serta mengawasi adanya impor sampah illegal. Kendati demikian, hal itu tidak menyelesaikan masalah, namun justru menimbulkan masalah baru bagi tempat lain.
Bagi negara Indonesia, hal ini menjadi bencana baru, alias ketibanan ‘masalah baru’ didalam negeri yang  belum usai, eh..diperburuk dengan adanya impor sampah. Seperti pribahasa mengatakan sudah jatuh ketimpa tangga pula. Yang menambah kita geleng-geleng kepala adalah “menggiurkannya bisnis sampah”. Menurut penelusuran lembaga Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton)  menemukan  masuknya sampah impor di Indonesia adalah sampah kertas impor sebagai bahan baku kertas. Ada setidaknya 12 perusahaan pabrik kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas impor. Bagi pengusaha hal itu menjadi pundi-pundi pelipatan kapital baginya. Ditengah-tengah pengelolaan sampah negara maju yang tidak serius menangani masalah sampah, bagi pengusaha yang cerdik hal itu merupakan kesempatan emas dibalik celah tumpukan sampah.  Didapat dari Dw.com bahwa bukan kita yang harus membayar berapa sampah yang kita beli, melainkan sampah itu dibayar dari negara asal. Berbeda dengan pengelolaaan sampah di kita, yang harus membayar adalah kita yang akan membeli bahan baku sampah. Diketahui satu ton sampah dihargai dengan 40 Dollar Amerika, tinggal dikalikan berapa ribu ton. Rezeki bagi pengusaha, selain membantu mencukupi bahan baku perusahaannya, ia juga mendapatkan keuntungan tambahan keuntungan dari negara yang mengimpor sampah.
Realitas yang demikian, bisa saja masih memiliki dampak positif, karena ikut membantu mendaur ulang sampah. Akan tetapi mengapa masih mau mengimpor dari negara lain? Yang harus ditanyakan ulang adalah apa benar pengelolaan sampah di negeri sendiri sudah dapat tertangani? Sehingga impor sampah luar negeri pun tak masalah, atau apa benar sampah untuk bahan baku perusahaan kekurangan di negerinya?. Apa benar sampah di Indonesia tidak banyak, sehingga tidak mencukupi bahan baku campuran dari daur ulang sampah? Jika dapat menjawab pertanyaan itu, maka bisa kita nilai hal itu dalam tingkat wajar.
Namun, fakta dilapangan mengatakan berbeda. Belum cukupkah dengan 64 juta ton sampah pertahun? Nampaknya pelipatan kapital-kapital diantara pengusaha menjadi sangat menggiurkan dibandingkan dampak ekologis yang akan ditimbulkan (banjir, polusi udara, air, tanah, laaut, dlsb) juga tak kalah pentingnya beban sosial (kesehatan dan taraf hidup).  
Seharusnya, permasalahan sampah harus diutamakan. Sebab, dalam setiap hidup kita per harinya pasti menyampah. Berapa kilogram kita setiap harinya kita menghasilkan sampah? Menurut Greenation, sebuah NGO yang peduli lingkungan mengatakan satu orang Indonesia menggunakan rata-rata 700 kantong plastik perhari.  Kurang banyak? Lalu bagaimana sampah selain plastik seperti sampah rumah tangga, sampah organik, sampah buah-sayuran?
Sampah sudah barang tentu menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Penanganan sampah yang kurang tepat akan menjadikan masalah baru. Meskipun zero waste yang merupakan gerakan meminimalisir sampah, tidak mungkin kita tidak menyampah. Usaha yang bisa dilakukan adalah sekecil mungkin kita tidak menyampah dan membiasakan hidup bersih. Tambahan juga, kita harus respect dan kritis terhadap kebijakan pemerintah yang kurang tepat dalam menangani sampah.

1 komentar: