Oleh
: Miftahul Hadi
MANUSIA
HIDUP UNTUK MEMPRODUKSI SAMPAH | Sampah sudah menjadi problematika kehidupan
manusia di dunia, bukan saja negara miskin tetapi negara maju yang notabenenya
memiliki teknologi yang lebih baik dan orang-orang jenius. Sebut saja Amerika
Serikat.
Amerika
Serikat (AS) merupakan negara yang paling diunggulkan menjadi produsen sampah terbanyak
dunia dengan menghasilkan lebih dari dua miliar sampah pertahun. Jumlah ini,
tiga kali lipat dari rata-rata sampah global pertahun, termasuk plastik dan
makanan.
Sedangkan
Indonesia setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak
dikelola dengan baik. Bahkan pada tahun 2019 menurut Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan total sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton
sampah, dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau sekitar 14
persen dari total sampah yang ada. Ada sekitar 0,48-1,29 juta ton sampah plastik
tersebut diduga mencemari lautan.
Belum
lagi pencemaran laut yang di pimpin oleh China dengan tingkat pencemaran sampah
plastik ke laut sekitar 1,23-3,53 juta ton/tahun. Bahkan ilmuwan memprediksi
pada tahun 2050 sampah empat kali lipat lebih banyak sekitar 20 miliar ton
sampah dari tahun 1950-2005 yang hanya 6,5 miliar ton sampah.
Banyaknya
sampah yang menggunung di negara berkembang seperti Asia Tenggara, termasuk
Indonesia disebabkan oleh jumlah penduduk yang banyak berbanding lurus dengan kesadaran
budaya hidup tidak bersih warganya seperti buang sampah semabaranga, regulasi
kebijakan pemerintah yang buruk, juga
tingkat konsumtif warganya yang tinggi tidak dibarengi oleh dampak dari apa
yang dikonsumsi meninggalkan ‘kemasan’ makanan maupun makanan itu sendiri yang
akan menjadi sampah.
Hal
ini diperburuk dengan kondisi negara besar Amerika dan Tiongkok yang saling
berperang, termasuk soal pengelolaan sampah. Dimana sejak tahun 1995 Tiongkok
menjadi salah satu negara pengimpor daur ulang sampah di duinia, bahkan terbesar.
Pada tahun 2016 saja ada sekitar 45 juta ton sampah impor, atau sekitar 50
persen sampah daur ulang dunia pergi ke industri Tiongkok (Dw News, 2019).
Namun pada tahun 2018 Tiongkok mengeluarkan kebijakan baru tentang pelarangan
impor daur ulang sampah ke negaranya atau kebijakan National sword dan Blue sky. Imbasnya,
bagi negara penghasil sampah terbesar dunia seperti Jepang, Australia, dan
Amerika Serikat harus memutar otak mencari negara baru yang menjadi tujuan
ekspor sampah. Faktanya, negara miskin lah yang menjadi korban dari arus sampah
ekspor negara tersebut.
Negara
di Asia tenggara seperti Malaysia, Filipina, Thailand termasuk Indonesia menjadi
sasaran impor limbah plastik skala global. Dalam keterangan greenpeace.org statistik menunjukkan antara tahun 2016-2018
wilayah ASEAN impor sampah plastik tumbuh mengejutkan 171 persen, dari 836.529
ton menjadi 2.265.962 ton. Hal itu setara dengan 423.544 kontainer berukuran 20
kaki. Bayangkan!
Alih-laih
pelabelan ‘sampah tersebut dapat didaur ulang’ ternyata dalam realitasnya
ratusan ribu ton sampah tersebut adalah sampah yang terkontaminasi. Bisa
dibayangkan sampah tersebut mencemari lingkungan dan mencemari kehidupan
manusia didalamnya. Pada akhirnya beberapa negara mengeluarkan kebijakan
mengembalikan sampah tersebut ke negara asal, juga menyetop impor sampah dari
luar serta mengawasi adanya impor sampah illegal. Kendati demikian, hal itu
tidak menyelesaikan masalah, namun justru menimbulkan masalah baru bagi tempat
lain.
Bagi
negara Indonesia, hal ini menjadi bencana baru, alias ketibanan ‘masalah baru’
didalam negeri yang belum usai,
eh..diperburuk dengan adanya impor sampah. Seperti pribahasa mengatakan sudah
jatuh ketimpa tangga pula. Yang menambah kita geleng-geleng kepala adalah
“menggiurkannya bisnis sampah”. Menurut penelusuran lembaga Ecological Observation and Wet Conservation
(Ecoton) menemukan masuknya sampah impor di Indonesia adalah
sampah kertas impor sebagai bahan baku kertas. Ada setidaknya 12 perusahaan
pabrik kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas impor. Bagi
pengusaha hal itu menjadi pundi-pundi pelipatan kapital baginya.
Ditengah-tengah pengelolaan sampah negara maju yang tidak serius menangani
masalah sampah, bagi pengusaha yang cerdik hal itu merupakan kesempatan emas
dibalik celah tumpukan sampah. Didapat
dari Dw.com bahwa bukan kita yang harus membayar berapa sampah yang kita beli,
melainkan sampah itu dibayar dari negara asal. Berbeda dengan pengelolaaan
sampah di kita, yang harus membayar adalah kita yang akan membeli bahan baku
sampah. Diketahui satu ton sampah dihargai dengan 40 Dollar Amerika, tinggal
dikalikan berapa ribu ton. Rezeki bagi pengusaha, selain membantu mencukupi bahan
baku perusahaannya, ia juga mendapatkan keuntungan tambahan keuntungan dari
negara yang mengimpor sampah.
Realitas
yang demikian, bisa saja masih memiliki dampak positif, karena ikut membantu
mendaur ulang sampah. Akan tetapi mengapa masih mau mengimpor dari negara lain?
Yang harus ditanyakan ulang adalah apa benar pengelolaan sampah di negeri
sendiri sudah dapat tertangani? Sehingga impor sampah luar negeri pun tak
masalah, atau apa benar sampah untuk bahan baku perusahaan kekurangan di
negerinya?. Apa benar sampah di Indonesia tidak banyak, sehingga tidak
mencukupi bahan baku campuran dari daur ulang sampah? Jika dapat menjawab
pertanyaan itu, maka bisa kita nilai hal itu dalam tingkat wajar.
Namun,
fakta dilapangan mengatakan berbeda. Belum cukupkah dengan 64 juta ton sampah
pertahun? Nampaknya pelipatan kapital-kapital diantara pengusaha menjadi sangat
menggiurkan dibandingkan dampak ekologis yang akan ditimbulkan (banjir, polusi
udara, air, tanah, laaut, dlsb) juga tak kalah pentingnya beban sosial
(kesehatan dan taraf hidup).
Seharusnya,
permasalahan sampah harus diutamakan. Sebab, dalam setiap hidup kita per
harinya pasti menyampah. Berapa kilogram kita setiap harinya kita menghasilkan
sampah? Menurut Greenation, sebuah NGO yang peduli lingkungan mengatakan satu
orang Indonesia menggunakan rata-rata 700 kantong plastik perhari. Kurang banyak? Lalu bagaimana sampah selain plastik
seperti sampah rumah tangga, sampah organik, sampah buah-sayuran?
Sampah
sudah barang tentu menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa dilepaskan begitu
saja. Penanganan sampah yang kurang tepat akan menjadikan masalah baru. Meskipun
zero waste yang merupakan gerakan
meminimalisir sampah, tidak mungkin kita tidak menyampah. Usaha yang bisa
dilakukan adalah sekecil mungkin kita tidak menyampah dan membiasakan hidup
bersih. Tambahan juga, kita harus respect dan kritis terhadap kebijakan
pemerintah yang kurang tepat dalam menangani sampah.

Mantul saudarakuuuuuđ
BalasHapus