
Oleh : Farij Nurmahdi
MUSNAHKAH PETANI MUDA DI MASA DEPAN? | Urbanisasi dari desa ke kota
dan modernisasi yang tidak bisa ditahan lajunya berdampak pada dunia pertanian.
Lebih lagi semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke persawahan.
Sejak berkembangannya teknologi
dan revolusi industry 4.0 telah mengubah mindset generasi peralihan ini untuk
mencari pekerjaan yang lebih mudah, efisien dan bergengsi.
Berjubel dengan lumpur, berteman
dengan terik matahari maupun hujan sudah bukan jadi profesi pemuda saat ini.
Mereka lebih memilih dunia perkantoran dengan fasilitas lengkap, lebih senang
berada didepan laptop, bersahabat dengan suara mesin-mesin pabrik maupun
bergaji besar, tidak perlu capek dan panas-panasan atau dipusingkan dengan
harga tidak menentu.
Diperparah lagi dengan
menjamurnya bidang property dan tumbuh suburnya perumahan-perumahan sehingga
lahan untuk bercocok tanam semakin sempit. Tercatat oleh BPS, luas baku lahan
pertanian di Indonesia turun menjadi 7,1 juta hectare pada tahun 2018 dibanding
data sensus 2013 seluas 7,75 juta hectare.
Apalagi maraknya pemuda jadi
pembuat konten karena hasilnya menggiurkan dan pembisnis daring.
Mirisnya, dikutip dari BBC News negara
Indonesia yang merupakan negara agraris di Perguruan Tinggi yang mencetak
lulusan pertanian justru hanya delapan persen yang berani jadi petani di usia
35 tahun kebawah. Mereka mengembangkan system hydroponic maupun Aquaponic.
Ditambah lagi pasar bebas yang disepakati
tiap negara sejak tahun 2015 di wilayah Asean ‘MEA’ (Masyarakat Ekonomi Asean).
Ini menambah daftar sempitnya ruang gerak petani untuk menjual hasil buminya
meski awalnya digadang sebagai titik balik mempermudah pemasaran.
Badan Pusat Statistik mencatat,
Februari tahun 2016 setidaknya ada 38,29 juta bekerja di sector pertanian dan
Agustus tahun 2019 turun 1,12 juta atau 1,46 persen dibanding Agustus tahun
2018.
Jika negara Indonesia krisis
petani muda, kedepan akan berdampak pada kurangnya pasokan bahan pangan dan
semua akan impor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Juga tidak tercapainya
swasembada pangan kecuali pemerintah menyiapkan inovasi agar dunia pertanian
lebih maju, membuat kebijakan agar kaum tani sejahtera dan kembali diminati
oleh anak muda lebih lagi bukan sebagai pekerjaan yang disepelekan.
Petani butuh inovasi. Petani
butuh inspirasi. Maka dari itu, generasi penentu perubahan negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar