Oleh : Farij Nurmahdi
NEW (WORLD) NORMAL 2020
| Kapan dunia akan
kembali normal? Seperti itulah pertanyaan yang banyak orang katakan.
Perang Korona dengan manusia sejak akhir tahun 2019 tepatnya
berawal dari kota Hubei, Tiongkok belum bisa diatasi hingga saat ini. Korban
terus berjatuhan dan penyebarannya pesat setiap negara di dunia. Bandelnya
virus ini hampir melumpuhkan total aktivitas manusia sehingga kehidupan menjadi
tidak normal. Kegiatan ibadah, proses belajar-mengajar, perputaran roda ekonomi
dan jalannya pemerintahan terkena dampaknya.
Semua sibuk melawan pasukan tak
kasat mata. Senjata canggih atau bahkan nuklir sekalipun yang dimiliki negara
adidaya dibuat tak berdaya menghadapi 'Perang ghaib'. Vaksin yang ditunggu
belum juga ditemukan untuk melindungi manusia dari ganasnya virus. Penyemprotan
desinfektan, jaga jarak, pemakaian masker, pembatasan social, dan protocol medis
sebagai upaya untuk menekan laju penyebaran diterapkan.
Dalam enam bulan terakhir,
dibeberapa negara kasus ini sudah melandai dan membuat kebijakan hidup baru ‘New Normal’. Contoh negara yang mulai
memberlakukan kehidupan baru adalah Jerman, Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Meski kemudian Korea Selatan kembali membatasi aktivitas akibat kasus kembali
melonjak tinggi padahal negara tingkat kedisiplinan tinggi.
Di Asia Tenggara seperti
Singapura dan Indonesia mulai mengikuti langkah negara-negara tersebut secara
bertahap. Tempat ibadah seperti Masjid dan Gereja kembali dibuka dengan
peraturan physical distancing,
pemakaian masker, penggunaan hand
sanitizer dan mempersingkat waktu.
Peristiwa merebaknya pandemic
bukan pertama kali terjadi di dunia ini. Indonesia juga terkena dampak yang
pada waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Sekitar Maret 1918 sampai November
1919 salah satunya. Virus yang dikenal dengan Flu Spanyol walau asal mulanya
bukan dari negara pembalap MotoGP bernomor 92 mencengkram bumi hingga
menewaskan setidaknya 50 juta jiwa manusia. Catatan tersebut belum dengan kasus
yang tidak terdata.
Pesatnya wabah berkembang dan
tingginya angka kematian disebabkan oleh regulasi setiap negara, pandemic
datang ditengah situasi tiap negara tengah berperang, minimnya pengetahuan
maupun kesadaran manusia tentang kesehatan dan alat medis yang belum secanggih
sekarang atau tidak memadai.
Kondisi yang terjadi di tahun
tersebut maupun peristiwa yang terjadi sebelumnya dapat diambil pelajaran atau
cambuk bagi manusia untuk sekarang agar tidak banyak korban berjatuhan,
beraktivitas sedia kala dan dunia kembali sehat. Sebab peristiwa seperti ini
berdampak luas bagi kehidupan manusia seperti pendidikan, kesehatan dan lebih
parahnya ekonomi.
Meskipun tak kasat mata, Lembaga
Kesehatan Dunia ‘WHO’ (World Healt Organization) menyatakan bahwa virus ini
tidak akan hilang dan beberapa peneliti mengatakan bahwa virus Korona akan
bertahan sampai tahun 2021 terkait dengan ditemukannya virus 18 bulan bahkan
lebih, ma,um hal tersebut bukan untuk ditakuti secara berlebih dan panik hingga terjadi kericuhan. Apabila yakin dan optimis bumi ini akan pulih dari sakitnya dengan
kesadaran manusia untuk hidup lebih sehat seperti digaungkan saat ini yakni
hidup normal baru ‘New Normal’ dengan segala upaya keras lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar