Oleh : Farij Nurmahdi
Sejak COVID-19 terdeteksi pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi
Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 hingga hari ini, tercatat 2.394.291 kasus, 164.938
dan 611.880 meninggal dunia dari
200 Negara lebih di dunia. [1]
Sedangkan dalam dua Minggu terakhir ini 20/4/20, Indonesia menyusul
cepat dengan jumlah 6.760 kasus, 590 meninggal dunia dan 747 [2] dinyatakan
sembuh dan kemungkinan besar akan terus bertambah mengingat Rapid Test yang
dilakukan belum sepenuhnya berjalan dan orang dalam pengawasan (ODP) makin
meningkat apalagi sikap 'menyepelekan' masyarakat terhadap virus ini ditambah
artikel, berita sampai video mengenai pandemi berseliweran di media sosial.
Physical distancing atau jaga jarak yang diberlakukan oleh
pemerintah kepada masyarakat dan menghimbau untuk tetap berada di rumah dengan
tidak banyak melakukan aktivitas diluar kurang begitu meyakinkan bahwa virus
ini 'mematikan' meski tidak perlu juga untuk dibesarkan.
Pemerintah bukan hanya menyuruh untuk jaga jarak saja tetapi
juga meliburkan sekolah, melakukan patroli, membatasi ritual keagamaan sampai
mengatur resepsi pernikahan atau hajatan demi mencegah penularan dan memutus
penyebaran virus korona.
Jika berkaca pada pertama kali kasus ini muncul di Indonesia,
masyarakat belum bisa terhindar dari rasa panik. Kepanikan inilah yang
sebenarnya dapat memicu terjadinya kerusuhan.
Namun, selain rasa panik, penyebaran hoaks atau berita-berita
yang tidak jelas, artikel-artikel yang tidak aktual dan faktual di sosial media
adalah hal yang dapat memperkeruh situasi juga menyebabkan munculnya perdebatan
di masyarakat atau bahkan akan menyebabkan chaos didalam negeri.
Tetapi, selain kepanikan yang sengaja dipancing dengan sengaja,
layaknya api kecil diberi bensin, hal tidak kalah parah adalah mengambil
kesempatan dalam kesempitan oleh oknum yang ingin meraup untung besar ditengah
wabah virus korona.
Seperti kasus dicurinya 20.000 masker di RSUD Pagelaran Cianjur,
hilangnya 10 dus besar masker di Mandar, 50.000 masker ditimbun di Makassar,
naiknya harga masker dan hand sanitizer secara drastis dan banyak kasus
lainnya. [3]
Hal inilah yang menjadikan barang yang diperlukan langka dan
menyebabkan pencegahan virus korona terhambat dan lambat.
Masker, hand sanitizer dan ADP yang seharusnya digunakan bagi
pasien dan dokter maupun perawat yang menangani pasien korona maupun pengidap
penyakit lainnya yang membutuhkan barang tersebut malah dijual dengan harga
selangit.
Tentu kejahatan yang dilakukan oleh oknum tak bertanggungjawab
tersebut bukanlah hal baru yang pernah terjadi, ada banyak kasus yang
memanfaatkan momen demi meraup keuntungan bagi pribadi maupun kelompok.
Paling meresahkan masyarakat adalah adanya oknum-oknum tersebut,
apalagi wabah virus korona ini belum ada obat yang dinyatakan dapat menekan
penyebaran virus, bahkan untuk disinfektan pun belum dinyatakan bisa membunuh
virus korona, penyemprotan disekeliling lingkungan pun sekedar upaya yang
diharapkan bisa membantu menghilangkan virus yang menempel disekitar.
Jadi, pelaku kejahatan yang 'aji mumpung' tidak memiliki rasa
kemanusiaan sama sekali. Bukan saja menyebabkan terhambatnya penanganan virus
korona tetapi juga tercekiknya masyarakat kalangan menengah. Di tengah
masyarakat yang sedang mengurangi aktivitas kerja dan berdampak pada
penghasilan mereka, ada oknum yang memanfaatkan momen untuk memeras mereka.
Untungnya, pihak keamanan di Indonesia sigap dan tanggap untuk
menanggulangi dan memberantas kejahatan yang ada di saat bencana terjadi saat
ini.
Terlepas dari isu yang ada juga kejahatan disaat adanya bencana,
virus korona bukan hal yang perlu ditakuti dan dibuat cemas namun tetap perlu
waspada dan berhati-hati.
Semoga dengan adanya kejadian yang hampir merata dialami oleh
seluruh negara, termasuk Indonesia, tidak ada lagi oknum yang ingin memperkaya
diri dan dapat lebih menambah rasa kemanusiaan.
Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri sebab manusia adalah
mahluk sosial atau 'zoon politicon' maka seyogyanya rasa kemanusiaan tidak
dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Sumber :
[1] Kompas.com
[2] Tirto.id
[3] newsdetik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar