Jumat, 08 Mei 2020

MORAL DI OBRAL


Oleh : Farij Nurmahdi

MORAL DI OBRAL | Masih hangat video tiktok seorang perempuan bermukena yang memperagakan salat dan berjoget kemudian orang-orang beramai men-share, mencemooh hingga mengutuk keras tindakan pelaku video tersebut sampai akhirnya pihak berwajib menjemputnya untuk dimintai keterangan dan dimasukkan ke jeruji besi atas 'kebodohannya'.
Kejadian seperti ini bukan hanya satu-dua kali saja, sudah banyak orang yang terjebak dalam 'ketidakwarasan' di era informasi yang serba mudah tersebar luas.
Jika sekali saja keliru meski tanpa ada unsur kesengajaan didalamnya, bersiaplah warganet akan bergerombol melayangkan kritik pedas atau bahkan berujung pada pihak kepolisian.
Hal ini mesti dipahami oleh masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan sosial media. Jangan sampai niat menghibur malah tercebur, jangan sampai niat bercanda malah kena bencana. Sudah capek mengobral moral dan menahan malu demi jempol like, love atau viral malah yang didapat adalah kebencian sampai masuk bui.
Tetapi, kasus ini tidak lebih parah dari kasus kardus sembako yang berisikan sampah oleh sekelompok pemuda yang sengaja membuat video prank kepada kaum waria.
Alih-alih ingin tenar, dapat pujian dan banyak yang subscribe channel Youtube mereka, status DPO yang malah didapat.
Inilah yang perlu diperhatikan oleh pengguna gadget. Boleh saja menghibur namun harus tahu sisi norma hukum, norma agama, norma kesopanan maupun norma kesusilaan dan tahu batasan-batasannya sebab jika hanya sekedar ingin dilihat oleh banyak orang dengan berbagai cara akan jadi senjata makan tuan apalagi sekarang ini media informasi sangat cepat.
Jadikan setiap peristiwa yang ada sebagai cambuk pelajaran untuk berhati-hati, berfikir sebelum bertindak dan bijak. Jangan sampai moral bobrok, kebodohan diobral!

JAMAN GABUT


Oleh : Farij Nurmahdi

JAMAN GABUT | Media social tengah diramaikan oleh hadist yang menyatakan bahwa dukhon – kabut asap – akan muncul di pagi hari setelah subuh pertengahan bulan Ramadan tepatnya tanggal 15 hari jumat. Ini berarti pagi hari nanti tanggal 08 Mei 2020 adalah pembuktian benar atau tidak hadist yang disebarkan oleh oknum pembawa berita kepanikan.
Mungkin niatnya baik, mengingatkan agar masyarakat kembali memikirkan kebesaran Tuhan apalagi dengan adanya musibah pandemic yang melanda dunia dan mengingatkan kepada khalayak umum untuk waspada terutama bagi kaum muslim yang mewanti-wanti kedatangan hari akhir dimana tidak ada lagi adzan yang berkumandang.
Namun, penulis artikel hadist Nabi – ada yang membantah bahwa hadist itu palsu, redaksinya tidak jelas dan tidak relevan – yang telah disebar oleh masyarakat dunia maya tersebut juga keliru dan tidak kembali mengkoreksi tulisannya. Ia malah memberikan berita yang jauh dari nalar manusia, seolah peramal yang tahu akan datangnya hari akhir terlebih lagi tanggal 15 Ramadlan di hari jumat tidak hanya terjadi di tahun ini saja, sudah beberapa kali hari dan tanggal tersebut bersamaan.
Memang benar, terjadinya hari akhir akan adanya kabut asap tetapi tidak ada seorang pun yang tahu kapan terjadinya peristiwa tersebut (Wallahu’alam). Dukhon tidak bisa manusia biasa prediksikan kapan datangnya kecuali tanda-tandanya yang dibeberkan sebagai alarm atau peringatan.
Seyogyanya masyarakat harus lebih selektif dalam menyebarkan berita – apalagi hadist yang derajatnya tinggi setelah Al Quran – dan mempertanyakan redaksi berita tersebut dari mana asalnya, siapa yang penulisnya dan mengkoreksinya kepada ahli hadist.
Di jaman gabut sekarang semua orang bisa langsung share meski hanya melihat judul tanpa membaca seluruh berita dan jarang sekali orang yang mencari tahu kembali baik itu mencocokan dengan kitab-kitab yang berisikan hadist maupun kepada ahli hadist. Jangankan hadist, berita-berita politik pun banyak yang disebar tanpa ditelaah terlebih dahulu padahal bisa jadi itu hanya hoaks.
Inilah bahayanya jaman penuh fitnah, jaman dimana berit-berita bohong berseliweran apalagi negara Indonesia yang masyarakatnya minim daya baca. Asal ramai, asal seru atau bahkan asal-asalan tanpa dicerna tanpa disaring terlebih dahulu langsung main share dan tidak mau tahu dampak dari hal yang telah dilakukan.
Tetapi, walau postingan maupun video yang beredar mengenai adanya dukhon itu akan terjadi esok atau tidak, sisi positifnya adalah umat kembali mengingat atas kebesaran Tuhan di masa pandemic ini. Seberat apapun musibah akan ada masanya berakhir, dimana obat akan ditemukan, semua yang awal akan ada akhir dan terus berulang dalam lingkaran kehidupan manusia.

SELAMAT HARI WAISAK


Selamat Hari Waisak

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL


Selamat Hari Pendidikan Nasional

SELAMAT HARI BURUH INTERNASIONAL


Selamat Hari Buruh Internasional

SELAMAT BULAN SUCI RAMADAN


Selamat Bulan Suci Ramadan 1441 H
27 April 2020 M

SELAMAT HARI BUMI


OPTIMIS INDONESIA MAJU



Oleh : Farij Nurmahdi

OPTIMIS  INDONESIA MAJU | Virus Corona tidak dapat dipungkiri memukul telak tiap negara. China yang sedang menunjukkan taringnya dalam berbagai aspek dipaksa untuk menghentikan langkah bahkan Amerika Serikat yang dipercaya sebagai negara digdaya dan memiliki berbagai teknologi modernpun dipukul mundur olehnya.

Indonesia yang tengah lari mengejar ketertinggalan perlu berhenti dan menghela napas untuk mengurusi virus yang mulai membandel dan menyebar dengan pesat.

Ditengah perang dengan musuh ‘ghaib’ masing-masing negara di tahun sekarang lebih disibukkan untuk menahan penyebaran virus dan mencari cara agar ekonomi didalam negara tetap stabil. Berbagai solusi dari mulai physical distancing (jaga jarak) hingga lockdown pun diterapkan.

Awal tahun 2020 sebagai tahun tikus logam benar-benar begitu pahit yang dirasakan oleh seluruh negara termasuk negara Indonesia padahal negara-negara berkembang mulai bergeser dan diprediksikan dapat bersaing dengan negara-negara maju.

Indonesia sendiri, pada akhir tahun 2019 rupiah mencapai level terkuat dalam satu setengah tahun terakhir di Rp. 13.865/US$ atau menguat 0,4% sebelum 12:00 WIB. Bahkan di masa wabah virus Corona berkembang kurs tengah Bank Indonesia Rupiah pertanggal 17 April 2020  berada di Rp. 15.503 atau 1,8% menguat signifikan dari hari sebelumnya.

Lalu bagaimana nasib ekonomi negara-negara di dunia termasuk Indonesia setelah pandemic Corona berakhir?

Perekonomian diluar prediksi ini mirip dengan situasi di tahun 1929 sampai 1939 menurut Scott Morrison, Perdana Menteri Australia. Sebab COVID-19 telah menghasilkan krisis finansial 2020 paling parah. Tercatat rata-rata saham dunia ‘ambruk’ hingga 25%.

Setiap negara dengan berbagai cara harus kembali memperbaiki dan menstabilkan ekonomi yang jatuh setelah dihantam penyakit ‘mematikan’ yang belum ditemukan obatnya.

Upaya di dalam negeri sendiri, selain memberlakukan PSBB sebagai ganti dari lockdown setelah melihat kejadian chaos di beberapa negara juga meninjau dengan jauh dampak dari lockdown, pemerintah Indonesia memberikan dana stimulus untuk menstabilkan roda ekonomi dan beruntungnya Pandemi Corona terjadi saat panen raya di pertengahan tahun 2020 sehingga cadangan pangan tersedia meski pemerintah telah mewanti-wanti di bulan Maret dengan meninjau persediaan di Gudang Bulog.

Keuntungan panen raya ditengah wabah yang terjadi melanda negeri ini dan seluruh negara di dunia bukan saja menekan kekhawatiran kurangnya pasokan tetapi juga persiapan menjelang wabah Corona berakhir ketika negara lain tengah mengalami krisis.
Jika saja di situasi saat ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dengan sadarnya masyarakat Indonesia bersatu padu untuk menyiapkan diri menuju kemajuan bangsa Indonesia karena seluruh negara harus kembali mulai memulihkan perekonomian dan pemerintah melakukan upaya-upaya yang jauh lebih baik untuk saat ini dan membuat strategi yang tepat untuk kedepan maka tidak mustahil setelah berakhirnya wabah virus Corona, Indonesia akan menjadi negara maju.