Senin, 20 April 2020

MAJU KENA MUNDUR KENA



Oleh : Farij Nurmahdi

COVID-19 atau lebih di kenal dengan Virus Korona - WHO mengumumkan sebagai pandemi (11/3) - telah menjangkit keseluruh negara di dunia termasuk Indonesia pertanggal 3 Maret 2020 setelah dinyatakannya 2 pasien positif terdampak virus tersebut oleh Juru Bicara Indonesia untuk Covid-19.
Sejak kasus tersebut sampai sekarang - bahkan WHO lewat Direktur Jenderalnya menyurati pemerintah menyarankan negara Indonesia untuk mengumumkan status Darurat Nasional (15/3) -, pemerintah Indonesia tidak langsung mengambil langkah untuk melakukan lockdown seperti China, Spanyol, Denmark, Malaysia dan beberapa negara lainnya.
Upaya pemerintah untuk menekan angka, mencegah dan memutus rantai penyebaran virus ini dengan menghimbau kepada masyarakat agar menjaga jarak fisik (physical distancing), kerja di rumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah.
Selain itu, upaya yang ditempuh pemerintah untuk menangkal dan menahan laju penyebaran virus 'mematikan' ini dengan melakukan Rapid Test (tes cepat) dimulai pada hari Jumat di Jakarta Selatan (20/3) sebagaimana yang dilakukan oleh Negara Korea Selatan, menyiapkan infrastruktur pendukung seperti menyulap Wisma atlet Kemayoran jadi Rumah Sakit Darurat dan ruang isolasi, Pulau Sebaru dan Pulau Galang juga dirancang untuk menjadi ruang karantina, observasi dan isolasi, menyediakan obat-obatan, masker dan Alat Pelindung Diri (APD).
Lalu, apakah langkah yang dilakukan pemerintah pusat efektif untuk mencegah penyebaran virus yang telah menyebar ke 199 Negara, 601.238 kasus (28/3).
Membayangkan bagaimana pemerintah bekerja sebenarnya berat dalam mengambil keputusan dan mencari alternatif untuk tetap menjalankan roda pemerintahan. Bukan saja memulihkan kembali Bumi Pertiwi dari 'sakitnya' tetapi juga menjaga kestabilan ekonomi ditengah wabah yang terus berkembang dan kian hari jumlah kasus terdampak semakin bertambah.
Pemerintah sekarang sedang dilanda tugas berat terlebih di beberapa kota yang telah masuk zona merah - termasuk Cirebon - telah terasa dampak dari himbauan pemerintah untuk membatasi aktivitas yakni 'physical distancing', bukan sekedar jaga jarak melainkan pula jalannya ekonomi bahkan ritual keagamaan yang 'dibatasi'.
Sepinya aktivitas di mal kota dan pusat perbelanjaan, melonjaknya harga hand sanitizer dan masker, langkanya APD,, tutup dan istirahatnya usaha kelas menengah.
Ditengah wabah yang menyerang berbagai sektor, Indonesia seakan sedang berjalan di tempat alias maju kena mundur pun kena.
Andaikata pemerintah memberlakukan lockdown, tidak adanya persiapan yang cukup dan langkah yang tidak tepat untuk saat ini bukan tidak mungkin akan terjadinya kekacauan ditengah masyarakat sebab semua akan ditutup tanpa terkecuali. Hal yang sudah terasa saat ini adalah tidak sedikit keluhan soal lesunya ekonomi.
Tetapi sebaliknya, seperti kasus di Italia yang terkesan 'lambat' dalam mengatasi penyebaran virus korona, jumlah kasus pasien terdampak virus korona melonjak cukup drastis dan merupakan negara paling tinggi tingkat kematiannya akbiat virus korona mencapai 9.134 kasus (28/3) dan bisa jadi Indonesia akan mengekor Italia setelah saat ini Amerika Serikat menjadi yang paling tertinggi dengan jumlah 104.025 kasus (28/3).
Inilah yang menjadi PR tidak mudah bagi pemerintah saat ini.
Bagaimana menciptakan sebuah kestabilan ditengah merambahnya virus korona, menghindari kepanikan masal ditengah masyarakat dan juga tidak saja berfokus pada kasus korona yang seakan begitu besar meski bukan hal yang sepele.
Walaupun demikian, semoga langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengambil suatu keputusan adalah baik untuk Indonesia dan memutus rantai penyebaran virus korona ini.
Semoga semua cepat berakhir dan Bumi Pertiwi kembali sehat agar kita bisa beraktivitas tanpa ada hambatan apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar